113 Tahun Kabupaten Solok: Sejarah dan Daftar Pejabat yang Pernah Memimpin

Pada tanggal 9 April 2026, Kabupaten Solok merayakan hari jadinya yang ke-113, menandai perjalanan panjang mulai dari era perjuangan kemerdekaan hingga saat ini. Dalam kurun waktu tersebut, terdapat 19 pemimpin yang telah memimpin daerah yang dikenal sebagai ranah lima danau ini, dengan kepemimpinan terkini dipegang oleh Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati Candra.
Sejarah Awal Kabupaten Solok
Dari sudut pandang sejarah Minangkabau, Solok merupakan hasil pengembangan populasi atau migrasi dari Luhak Nan Tuo yang mencari daerah baru untuk dijadikan tempat tinggal. Fenomena ini dikenal dalam konteks sejarah Kubuang Tigo Baleh. Berbagai versi cerita beredar mengenai asal-usul ini, namun intinya adalah bahwa nagari Solok dan Lubuk Sikarah menjadi simbol penting dari Kubuang Tigo Baleh.
Pembentukan Kabupaten Solok sendiri terjadi berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Belanda yang tercantum dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie tahun 1913 Nomor 321. Sejak penetapan ini, nama Solok dipertahankan sebagai identitas administratif meskipun berbagai perubahan nama daerah administratif terjadi, seperti Bun pada masa Jepang dan Luhak setelah kemerdekaan.
Perkembangan dan Pemekaran Kabupaten Solok
Seiring bertambahnya usia dan perjalanan sejarahnya, Kabupaten Solok telah mengalami dua kali pemekaran. Pemekaran pertama terjadi pada tahun 1970 ketika nagari Solok ditetapkan sebagai Kotamadya Solok. Selanjutnya, pada akhir tahun 2003, daerah ini kembali dimekarkan menjadi dua kabupaten baru, yaitu Sungai Pagu dan Sangir, yang dikenal sebagai Kabupaten Solok Selatan.
Pada tahun 1999, dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah kabupaten dan kota diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur daerah masing-masing. Kabupaten Solok, yang memiliki luas 7.084,2 km² pada saat itu, memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan penataan wilayah pemerintahan. Penataan pertama dilakukan pada tahun yang sama, dengan meningkatkan jumlah kecamatan dari 13 menjadi 14, sementara jumlah desa dan kelurahan tetap tidak berubah.
Daftar Bupati Kabupaten Solok
Dalam catatan sejarah kepemimpinan di Kabupaten Solok, terdapat 19 tokoh yang pernah menjabat sebagai Bupati. Kepemimpinan ini dimulai dari Sutan Diatas Datuak Rajo Bagindo, yang diangkat pada 23 Januari 1946, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Sayangnya, informasi mengenai masa kepemimpinannya cukup terbatas, dan ia kemudian digantikan oleh H. Dariws Taram Dt. Tumanggung yang menjabat dari 3 Maret 1947 hingga 27 Mei 1950.
Basrah Lubis melanjutkan kepemimpinan dengan masa jabatan singkat dari 27 Mei 1950 hingga 1 Maret 1951. Selanjutnya, sejumlah nama penting mencatatkan diri dalam sejarah Kabupaten Solok selama era bagolak ini, di antaranya Soeltani Sutan Malako (1 Maret 1951 hingga 8 Februari 1956), Noerdin Dt. Majo Sati (8 Februari 1956 hingga 1958), Buyung Dt. Gadang Bandaro (Agustus 1958 hingga Januari 1960), Bambang Sardjono Noersetyo (Januari 1960 hingga April 1963), dan Asgani Marah Sutan yang menjabat dari April 1963 hingga 9 Juli 1964.
Era Zagloel St. Kabasaran
Pada 9 Juli 1964, Zagloel St. Kabasaran dilantik menggantikan Asgani Marah Sutan. Birokrat ini menjabat selama dua periode dari tahun 1964 hingga 5 Juli 1975. Pada masa kepemimpinannya, Kota Solok resmi dibentuk pada bulan Desember 1970, yang sebelumnya hanya berstatus nagari dalam wilayah Kabupaten Solok.
Transformasi di Bawah Hasan Basri
Hasan Basri, yang berasal dari nagari Cupak, menggantikan Zagloel St. Kabasaran dan menjabat selama dua periode dari 5 Juli 1975 hingga 5 Juli 1985. Salah satu pencapaian pentingnya adalah pemindahan ibukota Kabupaten Solok dari nagari Solok ke Koto Baru, yang kini menjadi kompleks pemerintahan dan Islamic Center. Selama periode ini, berbagai pembangunan infrastruktur dilakukan, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan serta perbaikan sarana jalan.
Peralihan Kepemimpinan dan Inovasi
Dua tahun setelah menjabat, Hasan Basri menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Drs. Aman Danau, seorang birokrat dari nagari Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak. Dalam satu periode jabatannya, Aman Danau digantikan oleh Ir. Nurmawan, seorang insinyur pertanian yang terkenal dengan program Gerbang Emas (Gerakan Pengembangan Ekonomi Masyarakat), yang berfokus pada pengembangan sektor pertanian.
Setelah Nurmawan, Gamawan Fauzi, seorang birokrat muda yang sebelumnya menjabat sebagai kepala biro humas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, menggantikan posisi tersebut. Sebagai putra nagari Alahan Panjang, Gamawan membawa berbagai inovasi yang mengangkat Kabupaten Solok ke tingkat nasional, termasuk pelayanan satu pintu dan pencanangan pakta integritas sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan publik.
Di bawah kepemimpinannya, Gamawan juga menjalankan proses pemindahan ibukota Kabupaten dari Koto Baru ke Arosuka, yang merupakan hasil kajian mendalam dan diskusi panjang sebelum pelaksanaan pada tahun 2002. Gamawan Fauzi kemudian mengundurkan diri di akhir masa jabatannya untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Barat, dan sisa masa jabatannya dilanjutkan oleh Elfi Sahlan Ben, wakilnya.
Pemilihan Kepala Daerah dan Dinamika Politik
Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2005, Elfi Sahlan Ben harus mengakui keunggulan Gusmal Dt. Rj. Lelo, mantan Sekretaris Daerah yang terpilih sebagai Bupati Solok pada 2 Agustus 2005 hingga 2 Agustus 2010. Namun, Gusmal kalah suara dalam pilkada selanjutnya pada tahun 2010 melawan Drs. H. Syamsu Rahim, yang sebelumnya merupakan Walikota Solok. Selama satu periode jabatannya, Syamsu Rahim berhasil membangun Islamic Center Koto Baru di kompleks Pemda.
Pada Pilkada 2015, H. Gusmal Dt. Rj. Lelo kembali mencatatkan kemenangan dan dilantik menjadi Bupati Solok untuk kedua kalinya pada 17 Februari 2016, menjabat hingga 17 Februari 2021. Kepemimpinannya melanjutkan berbagai inisiatif pembangunan yang telah dimulai sebelumnya.
Generasi Penerus dan Masa Depan Kabupaten Solok
Setelah Gusmal, kepemimpinan diambil alih oleh Epyardi Asda, yang sebelumnya menjabat sebagai Anggota DPR-RI, dari 26 April 2021 hingga 20 Februari 2025. Dalam periode ini, Epyardi Asda mempercayakan istrinya, Emiko, untuk melanjutkan kepemimpinan, namun harus mengakui keunggulan Jon Firman Pandu yang berhasil meraih suara terbanyak dalam pemilihan Bupati Solok.
Jon Firman Pandu, yang sebelumnya adalah Wakil Bupati, dilantik menjadi Bupati Solok pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo, dengan H. Candra sebagai Wakil Bupati. Dengan pemimpin baru ini, Kabupaten Solok diharapkan dapat terus berkembang dan menjawab tantangan yang ada di masa depan.






